Jumat, 08 Februari 2013

Hantu Matre | cerita lucu |

Kunti Matre Tepat jam 12, gerbang kuburan dibuka. Seketika mereka berhamburan keluar untuk mencari hiburan. Gerombolan pocong yang tergabung dalam geng Pocong langsung menuju maskas di bawah pohon
melinjo untuk pesta miras. "Eh, elu nggak jalan ama cewek lu si Kunti?" tanya salah satu pocong pada temannya dalam geng. "Dia cuma ngajak ketemuan.

Sekarang nunggu di jembatan ujung jalan. He...he... " Pocong Lakiyo nyengir.
Terlihat sebaris gigi tak rapi dan tak putih. "Terus ngapain lu kesini?"
Dengan memasang tampang afgan nahan berak,
pocong akhirnya mengutarakan niatnya,"itu dia masalahnya.
Gue minta lu nganter gue. Perasaan gue nggak enak.
-----------------------------------------------
jangan lewatkan cerita lucu berikut
-------------------------------------------------
Garing, galau ringan." "Malu ama muka. Masak muka serem gitu ketemuan
aja minta dianterin. Ogah ! Males gue kalolewat depan bioskop itu.
Manusia sekarang pada sadis melecehkan kita lewat film. Masak kita digambar ngelemprak
dengan tulisan POCONG NGESOT. Sebelahnya parah lagi, POCONG MANDI GOYANG PINGGUL. Sejak kapan kita bisa mandi sambil goyang pinggul?

Mandi aja nggak pernah kan kita? Mereka fitnah seenaknya.
Sakit ati gue !" gerutu pocong yang di ketahui matinya ketiban semut yang sedang pegangan tiang listrik. "Santai aja bro. Gue ngeliat tulisan POCONG VS KUNTILANAK aja nggak marah.

Padahal jelas-jelas yang sebenarnya adalah pocong love kuntilanak.
Biarin manusia begitu. Dulu waktu kitamasih hidup juga sering membuat fitnah.
Ikhlasin aja. Ayo ah anterin gue," paksa si Pocong Lakiyo yang sudah tak sabar bertemu kekasih hatinya. "Ogah ! Gue lagi pengen mabok bir cap kemenyan cihuy.

PocongKardi yang bawa. Katanya barang import.
Lagian kalo gue ngikut ntar cerita ini jadi banyak tokohnya. Bikin pusing penulisnya nanti. Ha..ha.." Tawa
pocong sambil berlalu, meninggalkan sahabatnya resah dalam garing alias galau ringan.
Dengan perasaan galau yang menelusup pikiran, akhirnya si Pocong menemui kekasih hatinya yang
telah duduk manisdi atas pagar jembatan. Pocong muncul setelah lewat setengah jam dari waktu yang
dijanjikan. "Hai yayang Kunti, ma'af ya telat.Soalnya jalanan licin.

Jadi pas loncat-loncat kepleset terus. Untung tadi numpang odong-odong" Pocong beralibi. "Hmmm...." Kunti menanggapi. "Aku kan udah minta ma'af. Kenapa kamu masih dingingitu?"
Pocong bersedih. "Baru dari kulkas." "Owh.... " komentar pocong lugu, lantas memperbaiki
kalimatnya, "Mmmaksud aku kenapa mukamu pucat
sayang?" "Goblok! Ya iyalah. Aku kan setan. Bego' dipiara."
umpat Kunti yang makin sebel membuat Pocong makin
bingung. "Oh, bener juga ya? Tapi maksudku bukan itu. Kenapa
wajahmu terlihat murung? Adakah yang kamu pikirkan
sayang?" tanya Pocong meniru gaya Obama pidato.

 "Sepertinya, kita sudahi saja hubungan kita."
"Owh..." komentar Pocong santai.
"Kenapa kamu nggak sedih?" Kunti mengerutkan dahi. "Ya nggak apa-apa. Kan besok masih bisa bareng lagi.
Cuma malam ini kan?" jelas Pocong.
"Maksud aku kita putus... !!!" bentak Kunti melotot.
"Apa?!" Teriak Pocong seakan digigit kalajengking.
"Ko' gitu yang? Tapi kan.... " "Nggak ada tapi-tapian. Ngerti!" tegas Kunti.
"Iya iya aku ngerti. Aku cuma butuh satu tapi," kata
Pocong dengan muka memelas.
"Hiiihhh... Susah ya ngomong ama Pocong otak
profesor," keluh Kunti. "Owh, pacar baru kamu Profesor?" Pocong bertanya
seakan tanpa dosa. "Iya...! Profesor Idiot !" kesal Kunti meradang.
"Yang, pliss... Beri aku kesempatan. Aku sudah
berusaha menjadi yang terbaik buatmu." Pocong
mengiba. Dengan susah payah mencoba berlutut.
Namun apa daya terjungkal karena sempitnya kain
kafan yang melilitnya. "Apa? Terbaik? Kamu memelukku saja nggak pernah.
Membelai rambutku juga nggak pernah. Kamu nggak
romantis!" jelas Kunti dengan melipat tangan didada. "
Dan satu lagi, nggak usah aku kamu, panggil lu gue aja.
Kita udah putus ! Titik" kembali Kunti menegaskan
kebulatan tekad dan kebulatan pantatnya. "Sayang, bukankah dulu kamu bilang mau menerima
aku apa adanya? Aku emang nggak bisa memelukmu.
Selain tanganku terbungkus, aku juga masih punya
iman. Kita bukan muhrimyang..." Pocong meratap. "Hai... " Sebuah suara memotong ratapan pocong.
Tuyul datang dengan membusungkan dada. Padahal
tubuh kuntetnya tidak sedikitpun macho. "Ma'af, aku sudah memilih dia," ucap Kunti sambil
menunjuk ke arah Tuyul. "Ayo kita jalan-jalan ke mall . Kamu bisa pilih gaun apa
saja, biar aku yang bayar," kata Tuyuldengan sedikit
melompat untukmeraih tangan Kunti.
Kunti tersipu, wajah pucatnya merona. "Dasar setan matre! Ke Masjid aje!" Umpat Pocong
kesal. Mereka berdua berlalu, meninggalkan pocong
yang kinibenar-benar ngesot dalam ratapan

0 komentar:

Posting Komentar